Hubungan Pemuda dengan Gereja (3)

 Pemuda dalam Gereja dan Masyarakat

Pertama, pemahaman tentang fungsi Gereja. Sekarang ini bagi sebagian pemuda, fungsi Gereja bukan saja sebagai sarana pembangunan iman atau hal-hal rohani. Tetapi Gereja sudah beralih fungsi sebagai sarana hiburan dan sarana gaul kaum muda. Fakta mengenai hal ini dapat kita saksikan diberbagai daerah. Mau band bisa di Gereja, mau dengar musik kontemporer bisa juga di Gereja. Ada juga artis yang disebut sebagai artis rohani yang tidak kalah dengan artis yang kerap tampil di televisi. Tersedia juga tabloid rohani, majalah gaul dan lain-lain. Pendek kata, sekarang ini apapun hiburan yang lazim di lingkungan sekuler dapat juga kita jumpai di beberapa Gereja. Sudah sejak lama muncul Gereja-Gereja yang menggunakan musik sebagai “alat pemasaran” untuk menggaet para pemuda agar betah di Gereja. Kita banyak melihat dan mendengar, konser musik rohani yang dikemas sedemikian rupa dan ditata dengan falisilitas multimedia secara profesional.

Kita tidak sepenuhnya menentang kegiatan-kegiatan semacam itu. Karena kita tahu bahwa pemuda adalah komunitas yang bersemangat, dan saya setuju apabila Gereja menyediakan sarana yang mengakomodasi aspirasi pemuda. Tetapi janganlah kiranya selera sedemikian membuat kita jadi mengabaikan tugas panggilan kita sebagai garam dan terang bagi dunia sekitar kita. Dalam arti menjadi larut semata-mata untuk memenuhi selera sendiri dalam suasana ibadah yang hiruk-pikuk dan sibuk dengan urusan internal sendiri, tetapi lengah merespons masalah-masalah sosial yang terjadi. Antara lain misalnya, tindak kekerasan, pencemaran lingkungan hidup, perambahan hutan, dan lain sebagainya.

Kita sebagai orang percaya tidak pantas terjebak ibarat “katak dalam tempurung,” tidak mengetahui dunia luar. Dalam kehidupan kita sekarang ini di Indonesia banyak hal yang patut kita sikapi bersama. Kita sama-sama mengetahui bahwa Perundangan tentang otonomi khusus berlandaskan syariat agama tertentu sudah diterapkan di berbagai daerah, seperti di Nanggoe Aceh Darussalam. Hal ini ditengarai akan terus berlanjut pada upaya-upaya “ekspansi” pelaksanaan syariat agama tertentu di berbagai daerah di Indonesia. Atas nama otonomi daerah, pemerintah daerah membuat peraturan daerah sektarian seperti terjadi di Sumatera Barat. Kita juga mendengar tentang berdirinya bank-bank syariah, terbitnya peraturan bersama dua menteri yang masih tetap mengatur syarat mendirikan rumah ibadah, dan seterusnya. Semua ini patut kita sikapi dengan cermat dan arif, tanpa harus emosional. Maka itu, setiap warga jemaat, secara khusus pemuda, sangat penting mempunyai wawasan luas dalam memahami kondisi bangsa dan negara ini.

Kedua, kegandrungan pada gaya hidup (lifestyle) yang dianggap modern. Dalam kehidupan kita sehari-hari dapat kita melihat betapa masyarakat masa kini gampang terpesona oleh hal-hal yang lagi ngetrend dan jadi mode. Kita dapat saksikan sendiri, banyak orang yang mengandrungi apa yang dianggap sebagai gaya hidup. Kondisi ini antara lain ditandai dengan kegandrungan pada merk asing, makanan serba-instan (fast food), telepon seluler (HP), dan tentu saja serbuan gaya hidup lewat industri iklan dan televisi yang sudah sampai ke ruang-ruang kita yang paling pribadi, dan bahkan mungkin ke relung jiwa kita yang paling dalam. Terlebih di daerah perkotaan, dengan menjamurnya pusat perbelanjaan bergaya semacam shopping mall, tempat-tempat rekreasi, dan lain sebagainya. Semua ini tampak menanamkan nilai, cita rasa dan gaya hidup yang serba mewah.

Kini apa yang dianggap sebagai lifestyle modern bukan lagi monopoli artis, model, peragawan(wati) atau selebriti yang memang sengaja mempercantik diri untuk tampil di panggung. Tapi gaya hidup sedemikian sudah ditiru secara kreatif oleh sebagian besar masyarakat kita. Terkesan kuat bahwa masing-masing orang, terlebih kaum muda, seakan berlomba untuk mengikuti mode dan gaya hidup modern. Mengenakan berbagai asesori (perhisasan) serta mode dan fashion dalam tata busana untuk tampil di ruang publik.

Dengan mengemukakan hal itu, saya tentu tidak bermaksud mengajak pemuda untuk tidak beradaptasi dengan perkembangan zaman. Namun saya mau menekankan hendaknya kita jangan menjadi terbeban hanya untuk mengekspresikan diri sebagai orang yang bergaya hidup modern. Artinya, kita sebagai orang Kristen harus berupaya untuk tidak begitu saja terjerumus menjadi ‘kurban’ gaya hidup modern. Melainkan patut tetap menjadi diri sendiri, memiliki jati diri bukan menjadi orang lain dengan memaksakan diri meniru, menjiplak gaya hidup orang lain. Hal ini dapat kita tempuh dengan mengendalikan diri sendiri. Prinsip pengendalian diri sangat relevan termasuk untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Pemenuhan ‘keinginan’ biasanya adalah tanpa batas dan nyaris tidak pernah ada putus-putusnya. Sedangkan pemenuhan ‘kebutuhan’ dapat saja terwujud dengan pola hidup sederhana.

Lagi pula, saya mengamati bahwa bagi sebagian besar masyarakat kita apa yang disebut sebagai gaya hidup modern itu dianggap menjadi lambang prestise dan prestasi. Padahal jika kita telisik lebih mendasar sebenarnya gaya hidup tersebut justru menguat ke arah level simbolik. Dalam arti, hal-hal permukaan akan menjadi lebih penting daripada substansi. Gaya menjadi lebih penting daripada fungsi. Penampakan luar, penampilan, serta hal-hal yang bersifat ‘kulit’ menggantikan substansi dan esensi. Sehingga bisa terjadi, misalnya, seorang lulusan SMU tampak tampil dengan ‘gaya hidup modern’ namun wawasan maupun cakupan pengetahuan yang dimilikinya setara dengan seorang yang hanya lulus Sekolah Dasar.

Sehubungan dengan semua itu, menurut saya dalam konteks perubahan sosial masyarakat masa kini paling tidak ada dua hal pokok yang relevan kita akomodasi, yaitu menjadi transformator dan mengimplementasikan perspektif multikultural. Kedua hal tersebut perlu kita diskusikan lebih lanjut untuk kemudian dapat kita aplikasikan dalam upaya menciptakan masa depan yang lebih baik dalam kehidupan berGereja dan bermasyarakat.

Menjadi Transformator

Berlandaskan tugas panggilan Gereja, setiap orang Kristen pada dasarnya mengemban tugas untuk menjadi transformator dalam kehidupan masyarakat masa kini. Di kalangan pemuda Gereja, istilah transformator/ transformasi cukup popular (kan ada filmnya, Transformer…hehehe). Kita layak mengapresiasi semua saran dan gagasan yang menghendaki suatu transformasi di HKBP. Kita juga tidak menolak terjadinya suatu perubahan HKBP ke arah yang lebih baik. Karena optimisme terhadap ‘perubahan’ adalah baik, dan kita percaya kepada Allah yang mampu mengubah, mentransformasi dunia ini.

Namun transformasi tidak boleh diartikan suatu perubahan radikal dari kondisi yang memiliki kelemahan dan masih membutuhkan penataan, kemudian secara revolusioner berubah menjadi suatu kondisi yang bebas problem. Tetapi transformasi adalah sebuah proses, yang laju prosesnya sangat bergantung pada aksi dan reaksi dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Lagi pula secara umum, sebuah tranformasi membutuhkan suatu pra kondisi. Transformasi hanya bisa dimulai ketika setiap orang berkomitmen untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini berarti setiap orang terlebih dahulu patut menjadi orang yang bisa mengubah dan mau diubah dalam aksi nyata. Kemudian dari perubahan moral dan ketrampilan itu akan menciptakan perbaikan, itulah makna transformasi.

Saya berpendapat bahwa Gereja dan masyarakat pada masa kini membutuhkan transformator. Pemuda tentu dapat mengambil peran menjadi transformator dalam hidup berGereja dan bermasyarakat. Tetapi harap diperhatikan bahwa perwujudan transformasi yang efektif selalu dimulai dan diprakarsai oleh seorang atau sekelompok orang yang mempunyai karakteristik memimpin, mendobrak, dan mengubah. Jika pemuda Gereja ingin melakukan transformasi maka kita perlu pemimpin-pemimpin dan orang-orang yang patut menjadi contoh dan menjadi pendorong terhadap proses transformasi. Figur transformator juga harus memiliki kemampuan, wawasan ilmu dan iman serta mampu memberikan pengaruh dan spirit bagi orang banyak.

Dalam Alkitab kita mengenal beberapa orang figur transformator. Paulus dapat disebut sebagai seorang transformator. Paulus memiliki kecakapan memimpin, kemampuan pengetahuan dan keberanian untuk melakukan terobosan. Daud juga menjadi trasformator dalam kehidupan masyarakat pada zamannya. Gaya kehidupan Daud terus bergerak, ia berjuang dengan Saul, bersahabat dengan Yonathan,  dan imannya terus bertumbuh (2 Samuel 6: 16, 20-23). Semua ini terjadi sebelum dia berusia 30 tahun (2 Samuel 5: 4). Bahkan banyak Mazmur ditulis Daud ketika masih menginjak masa muda dewasa. Dalam Gereja mula-mula juga, terdapat pemimpin yang menjadi transfomator pada saat mereka masih muda. Tetapi kepada transformator muda tersebut, seperti kepada Timotius, dipesankan: “Jangan biarkan orang merendahkanmu karena kamu muda,” “Berilah contoh untuk orang percaya dalam perkataan, hidup, kasih, iman, dan kesucian.” (1 Timotius 4: 12).

Mengimplementasikan Perspektif Multikultural

Gereja ditempatkan oleh Tuhan di Indonesia ini dalam suatu masyarakat plural atau majemuk. Indonesia ini penuh dengan orang yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tercipta atas nama suku, status sosial, budaya, agama, dan politik. Tetapi dalam konteks Indonesia kontemporer, perbedaan latar belakang sosial kerap menjadi pemisah, bahkan jadi sumber ketegangan. Indikasi mengenai hal ini dapat dilihat dari konflik sosial yang terjadi di Indonesia – antara lain seperti kasus Poso, Ahmadyah, dll- di mana pada situasi tertentu agama mungkin menjadi faktor penghubung bagi orang-orang yang berbeda; tetapi pada situasi lainnya menjadi pemisah, bahkan menjadi sumber ketegangan. Belakangan ini, pemberlakuan otonomi daerah juga terkesan membangkitkan semangat kedaerahan dengan menonjolkan suku bangsa asli setempat. Kondisi sedemikian ini pada gilirannya berpotensi menyemaikan sikap yang kurang menghargai perbedaan yang ada di antara penduduk suatu daerah tertentu.

Secara kristiani, realitas perbedaan dalam masyarakat tidak patut dipertentangkan tetapi perlu dimaknai sebagai kekayaan dalam ranah sosial. Oleh karenanya, menurut hemat saya, dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat kita perlu mengimplementasikan perspektif multikultural. Perspektif multikultural memahami bahwa setiap individu maupun kelompok dari berbagai latar belakang sosial budaya maupun agama dapat bersatu dalam ranah sosial tanpa harus kehilangan identitas atau keunikan masing-masing. Setiap individu maupun kelompok dengan sadar sepakat mengkonstruksi kebersamaan tanpa menafikan perbedaan yang ada. Perbedaan tidak perlu dipertentangkan tetapi diselami sebagai suatu potensi yang memperkaya solidaritas dan kebersamaan. Perbedaan atau keunikan yang ada justru selalu harus dipelihara dengan komunikasi, dialog dan toleransi yang kreatif.

Pemuda sebagai bagian dari persekutuan Gereja

Pemuda adalah bagian dari koinonia, sehingga ia masuk dalam persekutuan kategorial. Dalam persekutuan in mereka di arahkan melalui PA, kebaktian pemuda, katekisasi dan percakapan pastoral. Melalui program diakonia Gereja, pemuda ditingkatkan daya saingnya sehingga mampu berkompetisi di level local, nasional dan internasional (peningkatan SDM).  Juga Diakonia memprogramkan penciptaan lapangan kerja buat mereka.

Peran Gereja dalam mempersiapkan dan membantu pemuda dalam menghadapi tantangan ini haruslah dilandaskan atas aspek  agape (lihat: Mat 22:34-40; Mark 12:28-34; Luk 6:27-36; 10:25-28; 1 Kor 13; bandingkan 1 Kor 4:6-21; Rom 12:9-21; 13:8-10; 1 Pet 3:8-12; 4:8; 1 Jn 4:7-21; Yoh 15:9-17; Yoh 17: 20-26.) dan idea dari kesatuan (oneness) [lihat Ep 2: 11-22; 4:1-16; 1 Kor 12; band Rom 12:1-8; Fil 2:1-11; 1 Pet 3:8-12; Yoh 17:20-26; Kis 4:32-37) yang adalah sangat penting dalam mengerti akan apa itu Gereja. Sehingga ada pernyataan bahwa dalam Gereja, jemaat haruslah saling menopang dan menolong (Mat 6: 1-4; 2 Kor 8-10; Gal 6: 1-10; 1 Pet 4:9; 3 Jn 1:5-12; Kis 2:41-47), haruslah saling mengajar dan mengingatkan(1 Tes 5:12-22; 2 Tes 2:13-3: 15; lihat isi kitab Timotius; Ibr 12: 1-16; kitab Yakobus; 1 Pet 5:1-11; Jude 1:17-22; Mat 18:15-20); saling mengerti satu sama lain (Luk 6:37-42; Rom 14-15:13), saling mengampuni (Mat 18:21-35; 2 Kor 2:5-11).

Maka adalah mandat dan tugas Gereja agar pemuda mampu menjadi saksi di dunia, menjadi garam (Mat 3:13) dan terang (Mat 5:14). Sehingga generasi muda yang kini mayoritas mengidentitaskan dirinya berdasarkan what they have bergeser menjadi what they are. Di sini karakter dan integritas yang didasarkan iman berperan menentukan. Generasi muda kembali menjadi dirinya yang idealis, dinamis, berpengharapan, penuh semangat dan cita-cita. Mereka berani tampil beda tanpa takut untuk diasingkan seperti Yesus.   Sehingga pemuda (dan Gereja)[3] tidak enggan untuk mengambil bagian di dalam civil society[4] di dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air di Indonesia.

Sikap Gereja

Kondisi yang dihadapi dunia pada saat ini, mau tidak mau juga dihadapi oleh Gereja di setiap dunia. Yang jadi permasalahan sekarang adalah : Apakah Gereja memiliki sikap yang jelas tentang kondisi ini ? Apakah Gereja berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalah ini ? Radius Prawiro mantan menko Ekuin Indonesia yang sekaligus orang percaya mengatakan : “Di tengah derasnya arus globalisasi, Gereja harus mampu memberikan pelayanan terbaiknya bagi masyarakat.”, (Dr. Radius Prawiro, Drs. Ec., Ak : In Memoriam of Radius Prawiro). Apakah itu ?

Bagaimana kondisi Gereja kita saat ini? Fakta menunjukkan Gereja pada masa kini, tidak lebih dari sebuah organisasi. Padahal sejak semula Gereja lahir bukan sebagai sebuah organisasi tapi sebuah organisme, yang berarti harus terus berkembang menjadi dewasa. John RW Stott membuat pernyataan berkenaan tentang kondisi Gereja pada masa kini : “… Gereja tidak lagi menyatakan fungsinya sebagai garam dunia yang memberikan pengobat dari rasa sakit karena dosa, malah sebaliknya menjadi madu dunia yang makin mempermanis dosa dunia, dengan kata lain Gereja telah menjadi sama dengan dunia (bahkan lebih buruk), dan tidak lagi menunjukkan budaya tandingan yang membuatnya menjadi berbeda dengan dunia …” (John RW Stott : Khotbah Di Bukit). Wacana berkenaan dengan perpecahan Gereja, pertumbuhan Gereja, dan teladan hidup orang percaya di tengah dunia seakan terus menjadi hal yang dipergumulkan.

Meskipun sering terlambat merespon, tapi Gereja tetap memberikan sikap yang jelas terhadap kasus-kasus tertentu yang terjadi di dunia. Gereja tidak tinggal diam saat begitu banyak masalah terjadi. Beberapa tindakan yang riil dilakukan Gereja dalam rangka menghadapi masalah-masalah ini adalah: selain menerapkan kontekstualisasi Gereja di kehidupan sehari-hari Gereja, Gereja juga memaksimalkan tritugas panggilan Gereja. Kontekstualisasi diwujudkan dengan melakukan penyesuaian antara keberadaan Gereja dengan kondisi yang dihadapi dan yang melingkupinya: baik budaya, tehnologi, kemasyarakatan, dll. Sedangkan dalam memaksimalkan tritugas panggilan Gereja, Gereja HKBP mulai melakukan beberapa hal sebagai berikut:

  • Marturia :

Pada bagian ini Gereja bisa melakukan penyampaian kotbah/ pengajaran/ pelatihan berkenaan konteks yang dihadapi. Melalui tindakan ini diharapkan orang percaya dan warga Gereja mendapatkan kesadaran (awareness) dan terdorong untuk bereaksi positif menghadapi tantangan tersebut. Selain itu, melalui media inilah pengajaran-pengajaran Gereja (dogma dan doktrin) dapat diimplementasikan dengan melakukan penyesuaian dengan kondisi yang dihadapi.

  • Koinonia :

Pada tugas koinonia, Gereja dipanggil untuk menjadi saksi hidup yang berani menampilkan keberbedaannya dari dunia. Dalam hal ini Gereja dituntut untuk bisa menunjukkan teladan hidupnya yang bersih dan murni. Beberapa hal yang mulai diusahakan di Gereja HKBP adalah :

  • Dalam hal ekonomi : Memperjuangkan Transparency againts corruption code of conduct; Menerapkan Fair trade
  • Dalam hal budaya dan religiositas: Melakukan Interethnic and Interreligious Dialogue ; PA kelompok
  • Dalam hal lingkungan : Aksi seribu pohon ; Aksi daur ulang

 

  • Diakonia :

Dalam pelayanan diakonia Gereja dipanggil untuk melakukan pelayanan kasih kepada sesamanya, tanpa memandang status apapun. Beberapa hal yang mulai dikerjakan Gereja adalah :

  • Dalam hal ekonomi : Income Generating Project, Credit Union Modification (CUM)
  • Dalam hal budaya : Konservasi budaya dalam bentuk kontekstualisasi di Gereja

Dalam hal lingkungan: Disaster response team; Community Buildin ; Voluntarily Counseling and Test (VCT) dan Care Support and Treatment (CST).

Dikutip dari  Pdt. PT. Sitio, S.Th

Tentang judikamahanaim

Judika adalah salah satu unit Naposo dari HKBP Mahanaim, Ressort Mahanaim di Kota Batam
Pos ini dipublikasikan di Renungan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s