Hubungan Pemuda dengan Gereja (2)

2.1. Keberadaan Pemuda di Pentas Politik.

Karl Barth pernah mengatakan kepada mahasiswa di Holand bahwatheology is politic. Dengan perkataan ini dia mau menekankan bahwa Gereja, dalam hal ini pemuda, mau tidak mau harus mencermati situasi politik. Gereja tidak boleh tabu terhadap politik kalau Gereja menginginkan pewartaannya menyentuh secara konkrit persoalan-persoalan kemanusiaan. Alasannya adalah sebagai berikut: disatu sisi pewartaan Gereja ingin menjawab kebutuhan manusia. Pada sisi lain hampir seluruh kebutuhan manusia sudah diatur secara politik dalam departemen-departemen pemerintahan (misalnya pendidikan, kesehatan, ekonomi, keamanan, dan lain-lain). Dengan demikian, pelayanan Gereja harus berdimensi politis tetapi tidak boleh mempolitisir persoalan. Kesulitan yang kita hadapi bahwa Gereja selama ini tidak melihat fungsinya di pentas politik. Pada masa-masa peralihan ini pasti akan terasa kecanggungan-kecanggungan dan pro-kontra di antara para pelayan dan tentu juga seluruh warga jemaat. Oleh karena itu, perubahan teologi sangat dibutuhkan dan harus dimulai oleh pemuda dan juga para pelayan. Dalam hal ini pemuda memiliki karakter yang positif dalam mengkritisi persoalan-persoalan kemanusiaan. Reformasi yang bergulir di tengah-tengah bangsa dan negara kita, misalnya, membuktikan betapa besar peranan pemuda di dalam memulai suatu pembaharuan. Pembaharuan yang mendasar seperti itu juga dibutuhkan oleh Gereja kita apabila kita merindukan HKBP yang pro-kehidupan atau pro-kemanusiaan.

2.2. Keberpihakan Pemuda Terhadap Orang Miskin, Orang yang Tersingkir dan Pengangguran

Gereja sudah terbiasa dengan slogan preference for the poor. Karakter ini harus juga ada di dalam diri pemuda. Tantangan ini semakin sulit karena fakta memperlihatkan bahwa Gereja kita juga sedang menghadapi persoalan di mana para pemuda dihantui oleh pengangguran, PHK, sulit mencari pekerjaan, kualitas SDM rendah, dan sebagainya. Di sini keberpihakan Gereja bukan hanya terhadap warga Gerejanya saja, akan tetapi secara umum. Sebagai contoh pada tahun lalu Gereja Jerman mengeluarkan sebuah pernyataan teologis sebagai konkritisasi keberpihakan kepada orang miskin. Pernyataan tersebut mengatakan bahwa Gereja menyediakan dirinya sebagai suatu kekuatan lobi politik dalam arti sebagai pembela terhadap orang miskin. Apa yang bisa dilakukan pemuda di dalam menjawab tantangan ini? Di samping statement-statement, pernyataan sikap, tampaknya perlu suatu tindakan konkrit. Sebagai contoh: tahun lalu Muhammad Yusuf dari Bangladesh memperoleh hadiah nobel perdamaian. Sangat aneh bagi semua orang bahwa kategori perdamaian dimenangkan oleh seorang yang sangat perduli kepada orang miskin yang mengembangkan CU (Credit Union). Tampaknya bidang dan model ini juga sangat relevan di Indonesia, dan oleh karena itu merupakan suatu kesempatan bagi pelayanan para pemuda.

2.3. Pemuda dan “dunianya”

Bagaimana kita mau mendefenisikan pemuda? Apakah betul pemuda didefenisikan dari “dunianya”? Dunia pemuda sering diidentikkan dengan judi, minuman keras, narkoba, kebebasan sex, dan lain-lain sejenisnya. Tetapi tampaknya identifikasi tersebut tidak bisa dipertahankan lagi karena ternyata dunia tersebut bukan lagi hanya dunia pemuda. Penyakit di atas tersebut terjadi di luar dan di dalam Gereja, kehidupan warga maupun pelayan, generasi tua maupun yang lebih muda. Penyakit HIV masuk juga dalam bagian ini karena hal itu merupakan akibat dari pada penyakit-penyakit sosial (free sex) di atas. Oleh karena itu haruslah sama seperti orang Kristen pada umumnya, pemuda tidak didefenisikan dari milieu atau lingkungannya, melainkan didefenisikan ke tujuannya, ke pembaharuan akal budi (Roma 12:1-2). Persoalan penyakit sosial ini menjadi sorotan bagi HKBP melalui tema-tema mingguan (Almanak HKBP).

2.4. Kekerasan dan kesetaraan gender.

Kekerasan dalam bentuk tawuran, perkelahian antar geng, antar lorong, disatu sisi dan kekerasan terhadap wanita di sisi yang lain turut juga mewarnai kecenderungan di tengah-tengah masyarakat. Termasuk di dalam kelompok ini adalah penjualan wanita dan anak-anak menjadi komoditi sex. Kecenderungan ini sudah dibaca oleh dewan Gereja sedunia ketika mencanangkan tahun 2001-2010 sebagai dekade anti kekerasan. Pemuda dalam hal ini perlu kreatif, merealisir semangat pembaharuan yang sifatnya oikumenis tersebut. Sikap ekstrim terhadap wanita berpangkal dari sikap atau pandangan merendahkan wanita. Itu sebabnya kesetaraan gender juga seharusnya menjadi tema di dalam percakapan-percakapan pemuda, yang didasari dari pemahaman teologis.

Tentang judikamahanaim

Judika adalah salah satu unit Naposo dari HKBP Mahanaim, Ressort Mahanaim di Kota Batam
Pos ini dipublikasikan di Renungan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s