Hubungan Pemuda dan Gereja

Pendahuluan

Berbagai definisi tentang kata pemuda sangat banyak kita dapati. Baik ditinjau dari fisik maupun phisikis akan siapa yang pantas disebut pemuda serta pertanyaan apakah pemuda itu identik dengan semangat atau usia.Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus Webstersnya sebagai “the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person”.Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai young people, sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan usia 10 -19 tahun. Contoh lain di Canada dimana negara tersebut menerapkan bahwa “after age 24, youth are no longer eligible for adolescent social services”.Jadi pemuda identik dengan sebagai sosok individu yang berusia produktif dan mempunyai karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis, berpikiran maju, memiliki moralitas, dan sebagainya. Kelemahan mecolok dari seorang pemuda adalah kontrol diri dalam artian mudah emosional, sedangkan kelebihan pemuda yang paling menonjol adalah mau menghadapi perubahan, baik berupa perubahan sosial maupun kultural dengan menjadi pelopor perubahan itu sendiri.Dalam istilah Gereja HKBP, kata pemuda ini dikenal dengan sebutan Naposobulung. Kata ini sendiri terdiri dari gabungan dua kata, yakni: Naposo (muda) dan Bulung (daun), yang secara harafiah dapat diartikan Daun muda (hehehe…jadi lucu ya???). Tapi itulah artinya. Daun Muda yang sangat indah, manis dan menawan. Daun muda yang masih memiliki masa depan dan harapan hidup yang sangat panjang. Namun, jangan dilupakan, Ia akan sangat rentan menjadi korban hama yang ada di sekitarnya. Daun muda ini akan menjadi incaran ulat-ulat dan hama karena rasanya yang manis dan menggoda. Ia juga akan sangat rentan terhadap perubahan cuaca yang tiba-tiba dan hilang di antara perubahan tersebut.Biasanya ketika orang membicarakan pemuda, maka yang ditekankan adalah pemuda sebagai masa depan Gereja. Dari pihak pemuda, mereka senang karena dilihat sebagai masa depan dan generasi penerus. Generasi tua juga merasa puas dan bangga karena menempatkan pemuda sebagai masa depan. Ternyata pandangan dan sikap demikian tidak partisipatif dan tidak konstruktif. Alasannya:

  1. Karena pemuda sebagai masa depan Gereja, maka mereka perlu dipersiapkan, dibina dan dikader agar cakap menghadapi masa depan dan menjadi warga Gereja yang tangguh di masa depan. Agar pemuda mempunyai masa depan dan menjadi masa depan Gereja, maka mereka haruslah dibina dan dipersiapkan. Itulah yang menjadi masa kininya yaitu sebagai objek pelayanan
  2.  Akibatnya, pemuda kurang atau tidak dilibatkan oleh Gereja di masa kini sebagai bagian yang turut menentukan masa depan Gereja.

Namun keterlibatan semua bagian dalam jemaat, generasi tua, generasi yang lebih muda, pemuda dan anak-anak tidaklah cukup. Akhirnya kita harus berbicara keterlibatan dalam pelayanan yang bermutu. Dulu kita dicekoki dan puas dengan gagasan pemerataan pendidikan atau pendidikan untuk semua. Tampaknya masyarakat juga cukup puas dengan kesempatan mengenyam pendidikan! Tetapi, bagaimana dengan mutu? Apakah kita puas dengan mutu pendidikan? Mungkinkah bangsa kita, atau HKBP, mengembangkan pelayanan pendidikan yang bermutu untuk semua kalau komponen-komponen penentu mutu tidak disediakan? Jika cara berpikir ini diterapkan dalam pelayanan pemuda maka timbul pertanyan: Mungkinkah mendapatkan pelayanan pemuda yang bermutu kalau komponen-komponen penentu mutu pelayanan pemuda tidak dipenuhi? Dengan menggumuli keterlibatan pemuda dalam pelayanan yang bermutu, diharapkan pemuda Distrik V bisa memberi kontribusi dalam pergumulan HKBP me-Revitalisasi Pelayanan Pemuda HKBP, sesuai dengan tema konsultasi yang akan diselenggarakan. Masa depan Gereja ditentukan oleh mutu pelayanan. Oleh karena itu, perlu dipikirkan beberapa hal yang terkait dengan pelayanan yang bermutu, khususnya dalam skopus pemuda, sebagaimana dijelaskan di bawah ini.

II. Pemuda dan masyarakat:

Gereja adalah Gereja atau tidak sama sekali. Bagaimana mengukurnya? Salah satunya adalah apakah Gereja tetap melaksanakan fungsinya sebagai Gereja, apakah Gereja tetap hadir sebagai Gereja di tempat di mana dia berada. Sebagus apapun pelayanan didesign tetapi kalau tidak menyentuh persoalan-persoalan yang muncul di tengah-tengah masyrakat, maka itu bukanlah pelayanan yang bermutu. Ada beberapa bahan yang bisa didiskusikan dalam pra-konsultasi ini antara lain:

2.1          Pemuda di Tengah-tengah Kemajemukan Bangsa.

Di antara banyaknya kemajemukan, yang paling membutuhkan perhatian kita sekarang adalah kemajemukan agama. Banyak persoalan-persoalan di tengah-tengah masyarakat akhir-akhir ini bernuansa agama. Itu sebabnya dialog antar umat beragama mutlak dilakukan. Memang dialog antar umat beragama dalam rangka dialog kerja, bekerja sama menghadapi persoalan-persoalan kemasyarakatan masih perlu terus ditumbuhkembangkan. Namun hal yang sangat penting yang kurang diperhatikan adalah dialog yang mencoba membuka diri dengan pertanyaan: adakah dan sejauh manakah keterbukaan teologi (Kristen) yang bisa dan mungkin dilakukan? Pertanyaan ini perlu ditindak lanjuti untuk menemukan jawaban, yang pada akhirnya memperlengkapi pemuda dalam berinteraksi dengan saudara-saudara yang tidak seiman khususnya dengan muslim. Sebagai bahan untuk diskusi saya menawarkan konsep dialog dengan saudara-saudara kita muslim sebagai dialog keluarga Abraham. Artinya kita berdialog bukan sebagai orang asing satu dengan yang lain tetapi sebagai satu keluarga. Dalam era globalisasi konteks lokal, nasional dan internasional sudah “interrelated” sehingga jika kita tidak mengenal siapa kita (identitas) yang berhubungan dengan keber”ada”an dan konteks, maka kita akan terputar oleh arus yang dikuasai oleh multi-cooperation, yang tidak memuja Allah tapi mammon. Dampaknya,  konteks global sekarang adalah mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan keutuhan interrelationship dari semua ciptaan. Sehingga yang nampak adalah ketidakadilan. Perbedaan dianggap sebagai ancaman bukan kekayaan yang saling menopang. Hal ini disebabkan karena yang memiliki, yang berkuasa, yang lebih pintar menindas/ memanipulasi yang tidak/ kurang memiliki, yang tidak berkuasa (powerless) dan yang bodoh. Saling berbagi (the idea of sharing) tidak dikenal dalam era ini. Prinsip Doa Bapa Kami dan kotbah di Bukit yang diajarkan oleh Yesus tidak berlaku di era perdagangan bebas dan global market ini. Manusia kini, amat cepat terserap oleh pola pikir dan tindak yang ditawarkan oleh global market ini, karena mereka menguasai dunia informasi. Termasuk pemuda Gereja.

Konsumerisme, hedonisme, pragmatisme, kebudayaan instant (coffee three in one) mengarahkan kita menjadi individualisme yang tidak sesuai dengan pola local (kebatakan- hula-hula, anakboru dll) dan nasional (gotong royong, musyawarah mufakat) yang berorientasi kepada kekuasaan (power)  dan uang (money). Semua orang menuntut dilayani bukan melayani. Yang tinggi direndahkan dan yang rendah ditinggikan tidak dikenal pemuda kini.

Ekonomi dan politik adalah berkaitan dan sangat berhubungan dengan keberadaan agama. Keterkaitan ketiga aspek ini dan yang dimana aspek agama adalah yang the most sensitive, maka jika Gereja belum mengertikan Pancasila sebagai civil religion[1], muncullah seperti yang kita kenal di tanah air tragedi Ambon dan Poso, juga di dalam pemerintah RI yang disebut “teroris.”  Ini adalah penampakan umum sebagai dampak negatif dari pluralisme kita (kepercayaan/iman dan suku). Penampakan khusus adalah masalah intra-church. Maraknya gerakan “haleluyah“ (bisa dimasukkan Pentakosta dan Karismatik) jangan dengan cepat dimengerti sebagai buah dari pekerjaan Roh Kudus. Ini adalah buah dari tatanan global market[2].

Berdasarkan pemaparan di atas, bisa dikatakan bahwa sebagai pemuda yang hidup di konteks kini tidak gampang. Karena tidak hanya complex tapi juga complicated (seperti status di Facebook ya…), jika kita tidak mempunyai identitas yang jelas tentang siapa dan dimana kita.

Pengangguran karena putus sekolah dan tidak dapat kerja adalah dampak dari era yanghigh competition ini.  Konsep keluarga juga sudah bergeser dikarenakan komoditi ekspor Indonesia yang menghasilan devisa yang tinggi buat negara adalah TKI dan TKW. Pemuda banyak yang jebolan keluarga yang kita sebut “broken home.“  Banyak yang melarikan diri [3], dari pada stress lebih baik ke narkoba, miras, berjudi, atau menjadi aktif di kegiatan-kegiatan yang positif seperti GMKI, pemuda Gereja HKBP atau Persekutuan-persekutuan doa yang menjamur kini.

Dalam era sejuta pilihan ini, pemuda harus mempunyai kemampuan untuk memilih. Kemampuan ini haruslah dilandasi bekal pengetahuan yang didapatkan dari bangku sekolah dan pendidikan keterampilan sehingga memampukannya berpikir secara global dan bertindak lokal, serta keteguhan iman. Perpaduan kedua ini jelas berhubungan dengan pemunculan sikap yang kerja keras, inovatif, kreatif dan jujur.

About these ads

Tentang judikamahanaim

Judika adalah salah satu unit Naposo dari HKBP Mahanaim, Ressort Mahanaim di Kota Batam
Tulisan ini dipublikasikan di Renungan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s