Hubungan Pemuda dengan Gereja (3)

 Pemuda dalam Gereja dan Masyarakat

Pertama, pemahaman tentang fungsi Gereja. Sekarang ini bagi sebagian pemuda, fungsi Gereja bukan saja sebagai sarana pembangunan iman atau hal-hal rohani. Tetapi Gereja sudah beralih fungsi sebagai sarana hiburan dan sarana gaul kaum muda. Fakta mengenai hal ini dapat kita saksikan diberbagai daerah. Mau band bisa di Gereja, mau dengar musik kontemporer bisa juga di Gereja. Ada juga artis yang disebut sebagai artis rohani yang tidak kalah dengan artis yang kerap tampil di televisi. Tersedia juga tabloid rohani, majalah gaul dan lain-lain. Pendek kata, sekarang ini apapun hiburan yang lazim di lingkungan sekuler dapat juga kita jumpai di beberapa Gereja. Sudah sejak lama muncul Gereja-Gereja yang menggunakan musik sebagai “alat pemasaran” untuk menggaet para pemuda agar betah di Gereja. Kita banyak melihat dan mendengar, konser musik rohani yang dikemas sedemikian rupa dan ditata dengan falisilitas multimedia secara profesional.

Kita tidak sepenuhnya menentang kegiatan-kegiatan semacam itu. Karena kita tahu bahwa pemuda adalah komunitas yang bersemangat, dan saya setuju apabila Gereja menyediakan sarana yang mengakomodasi aspirasi pemuda. Tetapi janganlah kiranya selera sedemikian membuat kita jadi mengabaikan tugas panggilan kita sebagai garam dan terang bagi dunia sekitar kita. Dalam arti menjadi larut semata-mata untuk memenuhi selera sendiri dalam suasana ibadah yang hiruk-pikuk dan sibuk dengan urusan internal sendiri, tetapi lengah merespons masalah-masalah sosial yang terjadi. Antara lain misalnya, tindak kekerasan, pencemaran lingkungan hidup, perambahan hutan, dan lain sebagainya.

Kita sebagai orang percaya tidak pantas terjebak ibarat “katak dalam tempurung,” tidak mengetahui dunia luar. Dalam kehidupan kita sekarang ini di Indonesia banyak hal yang patut kita sikapi bersama. Kita sama-sama mengetahui bahwa Perundangan tentang otonomi khusus berlandaskan syariat agama tertentu sudah diterapkan di berbagai daerah, seperti di Nanggoe Aceh Darussalam. Hal ini ditengarai akan terus berlanjut pada upaya-upaya “ekspansi” pelaksanaan syariat agama tertentu di berbagai daerah di Indonesia. Atas nama otonomi daerah, pemerintah daerah membuat peraturan daerah sektarian seperti terjadi di Sumatera Barat. Kita juga mendengar tentang berdirinya bank-bank syariah, terbitnya peraturan bersama dua menteri yang masih tetap mengatur syarat mendirikan rumah ibadah, dan seterusnya. Semua ini patut kita sikapi dengan cermat dan arif, tanpa harus emosional. Maka itu, setiap warga jemaat, secara khusus pemuda, sangat penting mempunyai wawasan luas dalam memahami kondisi bangsa dan negara ini.

Kedua, kegandrungan pada gaya hidup (lifestyle) yang dianggap modern. Dalam kehidupan kita sehari-hari dapat kita melihat betapa masyarakat masa kini gampang terpesona oleh hal-hal yang lagi ngetrend dan jadi mode. Kita dapat saksikan sendiri, banyak orang yang mengandrungi apa yang dianggap sebagai gaya hidup. Kondisi ini antara lain ditandai dengan kegandrungan pada merk asing, makanan serba-instan (fast food), telepon seluler (HP), dan tentu saja serbuan gaya hidup lewat industri iklan dan televisi yang sudah sampai ke ruang-ruang kita yang paling pribadi, dan bahkan mungkin ke relung jiwa kita yang paling dalam. Terlebih di daerah perkotaan, dengan menjamurnya pusat perbelanjaan bergaya semacam shopping mall, tempat-tempat rekreasi, dan lain sebagainya. Semua ini tampak menanamkan nilai, cita rasa dan gaya hidup yang serba mewah.

Kini apa yang dianggap sebagai lifestyle modern bukan lagi monopoli artis, model, peragawan(wati) atau selebriti yang memang sengaja mempercantik diri untuk tampil di panggung. Tapi gaya hidup sedemikian sudah ditiru secara kreatif oleh sebagian besar masyarakat kita. Terkesan kuat bahwa masing-masing orang, terlebih kaum muda, seakan berlomba untuk mengikuti mode dan gaya hidup modern. Mengenakan berbagai asesori (perhisasan) serta mode dan fashion dalam tata busana untuk tampil di ruang publik.

Dengan mengemukakan hal itu, saya tentu tidak bermaksud mengajak pemuda untuk tidak beradaptasi dengan perkembangan zaman. Namun saya mau menekankan hendaknya kita jangan menjadi terbeban hanya untuk mengekspresikan diri sebagai orang yang bergaya hidup modern. Artinya, kita sebagai orang Kristen harus berupaya untuk tidak begitu saja terjerumus menjadi ‘kurban’ gaya hidup modern. Melainkan patut tetap menjadi diri sendiri, memiliki jati diri bukan menjadi orang lain dengan memaksakan diri meniru, menjiplak gaya hidup orang lain. Hal ini dapat kita tempuh dengan mengendalikan diri sendiri. Prinsip pengendalian diri sangat relevan termasuk untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Pemenuhan ‘keinginan’ biasanya adalah tanpa batas dan nyaris tidak pernah ada putus-putusnya. Sedangkan pemenuhan ‘kebutuhan’ dapat saja terwujud dengan pola hidup sederhana.

Lagi pula, saya mengamati bahwa bagi sebagian besar masyarakat kita apa yang disebut sebagai gaya hidup modern itu dianggap menjadi lambang prestise dan prestasi. Padahal jika kita telisik lebih mendasar sebenarnya gaya hidup tersebut justru menguat ke arah level simbolik. Dalam arti, hal-hal permukaan akan menjadi lebih penting daripada substansi. Gaya menjadi lebih penting daripada fungsi. Penampakan luar, penampilan, serta hal-hal yang bersifat ‘kulit’ menggantikan substansi dan esensi. Sehingga bisa terjadi, misalnya, seorang lulusan SMU tampak tampil dengan ‘gaya hidup modern’ namun wawasan maupun cakupan pengetahuan yang dimilikinya setara dengan seorang yang hanya lulus Sekolah Dasar.

Sehubungan dengan semua itu, menurut saya dalam konteks perubahan sosial masyarakat masa kini paling tidak ada dua hal pokok yang relevan kita akomodasi, yaitu menjadi transformator dan mengimplementasikan perspektif multikultural. Kedua hal tersebut perlu kita diskusikan lebih lanjut untuk kemudian dapat kita aplikasikan dalam upaya menciptakan masa depan yang lebih baik dalam kehidupan berGereja dan bermasyarakat.

Menjadi Transformator

Berlandaskan tugas panggilan Gereja, setiap orang Kristen pada dasarnya mengemban tugas untuk menjadi transformator dalam kehidupan masyarakat masa kini. Di kalangan pemuda Gereja, istilah transformator/ transformasi cukup popular (kan ada filmnya, Transformer…hehehe). Kita layak mengapresiasi semua saran dan gagasan yang menghendaki suatu transformasi di HKBP. Kita juga tidak menolak terjadinya suatu perubahan HKBP ke arah yang lebih baik. Karena optimisme terhadap ‘perubahan’ adalah baik, dan kita percaya kepada Allah yang mampu mengubah, mentransformasi dunia ini.

Namun transformasi tidak boleh diartikan suatu perubahan radikal dari kondisi yang memiliki kelemahan dan masih membutuhkan penataan, kemudian secara revolusioner berubah menjadi suatu kondisi yang bebas problem. Tetapi transformasi adalah sebuah proses, yang laju prosesnya sangat bergantung pada aksi dan reaksi dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Lagi pula secara umum, sebuah tranformasi membutuhkan suatu pra kondisi. Transformasi hanya bisa dimulai ketika setiap orang berkomitmen untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini berarti setiap orang terlebih dahulu patut menjadi orang yang bisa mengubah dan mau diubah dalam aksi nyata. Kemudian dari perubahan moral dan ketrampilan itu akan menciptakan perbaikan, itulah makna transformasi.

Saya berpendapat bahwa Gereja dan masyarakat pada masa kini membutuhkan transformator. Pemuda tentu dapat mengambil peran menjadi transformator dalam hidup berGereja dan bermasyarakat. Tetapi harap diperhatikan bahwa perwujudan transformasi yang efektif selalu dimulai dan diprakarsai oleh seorang atau sekelompok orang yang mempunyai karakteristik memimpin, mendobrak, dan mengubah. Jika pemuda Gereja ingin melakukan transformasi maka kita perlu pemimpin-pemimpin dan orang-orang yang patut menjadi contoh dan menjadi pendorong terhadap proses transformasi. Figur transformator juga harus memiliki kemampuan, wawasan ilmu dan iman serta mampu memberikan pengaruh dan spirit bagi orang banyak.

Dalam Alkitab kita mengenal beberapa orang figur transformator. Paulus dapat disebut sebagai seorang transformator. Paulus memiliki kecakapan memimpin, kemampuan pengetahuan dan keberanian untuk melakukan terobosan. Daud juga menjadi trasformator dalam kehidupan masyarakat pada zamannya. Gaya kehidupan Daud terus bergerak, ia berjuang dengan Saul, bersahabat dengan Yonathan,  dan imannya terus bertumbuh (2 Samuel 6: 16, 20-23). Semua ini terjadi sebelum dia berusia 30 tahun (2 Samuel 5: 4). Bahkan banyak Mazmur ditulis Daud ketika masih menginjak masa muda dewasa. Dalam Gereja mula-mula juga, terdapat pemimpin yang menjadi transfomator pada saat mereka masih muda. Tetapi kepada transformator muda tersebut, seperti kepada Timotius, dipesankan: “Jangan biarkan orang merendahkanmu karena kamu muda,” “Berilah contoh untuk orang percaya dalam perkataan, hidup, kasih, iman, dan kesucian.” (1 Timotius 4: 12).

Mengimplementasikan Perspektif Multikultural

Gereja ditempatkan oleh Tuhan di Indonesia ini dalam suatu masyarakat plural atau majemuk. Indonesia ini penuh dengan orang yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tercipta atas nama suku, status sosial, budaya, agama, dan politik. Tetapi dalam konteks Indonesia kontemporer, perbedaan latar belakang sosial kerap menjadi pemisah, bahkan jadi sumber ketegangan. Indikasi mengenai hal ini dapat dilihat dari konflik sosial yang terjadi di Indonesia – antara lain seperti kasus Poso, Ahmadyah, dll- di mana pada situasi tertentu agama mungkin menjadi faktor penghubung bagi orang-orang yang berbeda; tetapi pada situasi lainnya menjadi pemisah, bahkan menjadi sumber ketegangan. Belakangan ini, pemberlakuan otonomi daerah juga terkesan membangkitkan semangat kedaerahan dengan menonjolkan suku bangsa asli setempat. Kondisi sedemikian ini pada gilirannya berpotensi menyemaikan sikap yang kurang menghargai perbedaan yang ada di antara penduduk suatu daerah tertentu.

Secara kristiani, realitas perbedaan dalam masyarakat tidak patut dipertentangkan tetapi perlu dimaknai sebagai kekayaan dalam ranah sosial. Oleh karenanya, menurut hemat saya, dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat kita perlu mengimplementasikan perspektif multikultural. Perspektif multikultural memahami bahwa setiap individu maupun kelompok dari berbagai latar belakang sosial budaya maupun agama dapat bersatu dalam ranah sosial tanpa harus kehilangan identitas atau keunikan masing-masing. Setiap individu maupun kelompok dengan sadar sepakat mengkonstruksi kebersamaan tanpa menafikan perbedaan yang ada. Perbedaan tidak perlu dipertentangkan tetapi diselami sebagai suatu potensi yang memperkaya solidaritas dan kebersamaan. Perbedaan atau keunikan yang ada justru selalu harus dipelihara dengan komunikasi, dialog dan toleransi yang kreatif.

Pemuda sebagai bagian dari persekutuan Gereja

Pemuda adalah bagian dari koinonia, sehingga ia masuk dalam persekutuan kategorial. Dalam persekutuan in mereka di arahkan melalui PA, kebaktian pemuda, katekisasi dan percakapan pastoral. Melalui program diakonia Gereja, pemuda ditingkatkan daya saingnya sehingga mampu berkompetisi di level local, nasional dan internasional (peningkatan SDM).  Juga Diakonia memprogramkan penciptaan lapangan kerja buat mereka.

Peran Gereja dalam mempersiapkan dan membantu pemuda dalam menghadapi tantangan ini haruslah dilandaskan atas aspek  agape (lihat: Mat 22:34-40; Mark 12:28-34; Luk 6:27-36; 10:25-28; 1 Kor 13; bandingkan 1 Kor 4:6-21; Rom 12:9-21; 13:8-10; 1 Pet 3:8-12; 4:8; 1 Jn 4:7-21; Yoh 15:9-17; Yoh 17: 20-26.) dan idea dari kesatuan (oneness) [lihat Ep 2: 11-22; 4:1-16; 1 Kor 12; band Rom 12:1-8; Fil 2:1-11; 1 Pet 3:8-12; Yoh 17:20-26; Kis 4:32-37) yang adalah sangat penting dalam mengerti akan apa itu Gereja. Sehingga ada pernyataan bahwa dalam Gereja, jemaat haruslah saling menopang dan menolong (Mat 6: 1-4; 2 Kor 8-10; Gal 6: 1-10; 1 Pet 4:9; 3 Jn 1:5-12; Kis 2:41-47), haruslah saling mengajar dan mengingatkan(1 Tes 5:12-22; 2 Tes 2:13-3: 15; lihat isi kitab Timotius; Ibr 12: 1-16; kitab Yakobus; 1 Pet 5:1-11; Jude 1:17-22; Mat 18:15-20); saling mengerti satu sama lain (Luk 6:37-42; Rom 14-15:13), saling mengampuni (Mat 18:21-35; 2 Kor 2:5-11).

Maka adalah mandat dan tugas Gereja agar pemuda mampu menjadi saksi di dunia, menjadi garam (Mat 3:13) dan terang (Mat 5:14). Sehingga generasi muda yang kini mayoritas mengidentitaskan dirinya berdasarkan what they have bergeser menjadi what they are. Di sini karakter dan integritas yang didasarkan iman berperan menentukan. Generasi muda kembali menjadi dirinya yang idealis, dinamis, berpengharapan, penuh semangat dan cita-cita. Mereka berani tampil beda tanpa takut untuk diasingkan seperti Yesus.   Sehingga pemuda (dan Gereja)[3] tidak enggan untuk mengambil bagian di dalam civil society[4] di dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air di Indonesia.

Sikap Gereja

Kondisi yang dihadapi dunia pada saat ini, mau tidak mau juga dihadapi oleh Gereja di setiap dunia. Yang jadi permasalahan sekarang adalah : Apakah Gereja memiliki sikap yang jelas tentang kondisi ini ? Apakah Gereja berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalah ini ? Radius Prawiro mantan menko Ekuin Indonesia yang sekaligus orang percaya mengatakan : “Di tengah derasnya arus globalisasi, Gereja harus mampu memberikan pelayanan terbaiknya bagi masyarakat.”, (Dr. Radius Prawiro, Drs. Ec., Ak : In Memoriam of Radius Prawiro). Apakah itu ?

Bagaimana kondisi Gereja kita saat ini? Fakta menunjukkan Gereja pada masa kini, tidak lebih dari sebuah organisasi. Padahal sejak semula Gereja lahir bukan sebagai sebuah organisasi tapi sebuah organisme, yang berarti harus terus berkembang menjadi dewasa. John RW Stott membuat pernyataan berkenaan tentang kondisi Gereja pada masa kini : “… Gereja tidak lagi menyatakan fungsinya sebagai garam dunia yang memberikan pengobat dari rasa sakit karena dosa, malah sebaliknya menjadi madu dunia yang makin mempermanis dosa dunia, dengan kata lain Gereja telah menjadi sama dengan dunia (bahkan lebih buruk), dan tidak lagi menunjukkan budaya tandingan yang membuatnya menjadi berbeda dengan dunia …” (John RW Stott : Khotbah Di Bukit). Wacana berkenaan dengan perpecahan Gereja, pertumbuhan Gereja, dan teladan hidup orang percaya di tengah dunia seakan terus menjadi hal yang dipergumulkan.

Meskipun sering terlambat merespon, tapi Gereja tetap memberikan sikap yang jelas terhadap kasus-kasus tertentu yang terjadi di dunia. Gereja tidak tinggal diam saat begitu banyak masalah terjadi. Beberapa tindakan yang riil dilakukan Gereja dalam rangka menghadapi masalah-masalah ini adalah: selain menerapkan kontekstualisasi Gereja di kehidupan sehari-hari Gereja, Gereja juga memaksimalkan tritugas panggilan Gereja. Kontekstualisasi diwujudkan dengan melakukan penyesuaian antara keberadaan Gereja dengan kondisi yang dihadapi dan yang melingkupinya: baik budaya, tehnologi, kemasyarakatan, dll. Sedangkan dalam memaksimalkan tritugas panggilan Gereja, Gereja HKBP mulai melakukan beberapa hal sebagai berikut:

  • Marturia :

Pada bagian ini Gereja bisa melakukan penyampaian kotbah/ pengajaran/ pelatihan berkenaan konteks yang dihadapi. Melalui tindakan ini diharapkan orang percaya dan warga Gereja mendapatkan kesadaran (awareness) dan terdorong untuk bereaksi positif menghadapi tantangan tersebut. Selain itu, melalui media inilah pengajaran-pengajaran Gereja (dogma dan doktrin) dapat diimplementasikan dengan melakukan penyesuaian dengan kondisi yang dihadapi.

  • Koinonia :

Pada tugas koinonia, Gereja dipanggil untuk menjadi saksi hidup yang berani menampilkan keberbedaannya dari dunia. Dalam hal ini Gereja dituntut untuk bisa menunjukkan teladan hidupnya yang bersih dan murni. Beberapa hal yang mulai diusahakan di Gereja HKBP adalah :

  • Dalam hal ekonomi : Memperjuangkan Transparency againts corruption code of conduct; Menerapkan Fair trade
  • Dalam hal budaya dan religiositas: Melakukan Interethnic and Interreligious Dialogue ; PA kelompok
  • Dalam hal lingkungan : Aksi seribu pohon ; Aksi daur ulang

 

  • Diakonia :

Dalam pelayanan diakonia Gereja dipanggil untuk melakukan pelayanan kasih kepada sesamanya, tanpa memandang status apapun. Beberapa hal yang mulai dikerjakan Gereja adalah :

  • Dalam hal ekonomi : Income Generating Project, Credit Union Modification (CUM)
  • Dalam hal budaya : Konservasi budaya dalam bentuk kontekstualisasi di Gereja

Dalam hal lingkungan: Disaster response team; Community Buildin ; Voluntarily Counseling and Test (VCT) dan Care Support and Treatment (CST).

Dikutip dari  Pdt. PT. Sitio, S.Th

Dipublikasi di Renungan | Tinggalkan komentar

Hubungan Pemuda dengan Gereja (2)

2.1. Keberadaan Pemuda di Pentas Politik.

Karl Barth pernah mengatakan kepada mahasiswa di Holand bahwatheology is politic. Dengan perkataan ini dia mau menekankan bahwa Gereja, dalam hal ini pemuda, mau tidak mau harus mencermati situasi politik. Gereja tidak boleh tabu terhadap politik kalau Gereja menginginkan pewartaannya menyentuh secara konkrit persoalan-persoalan kemanusiaan. Alasannya adalah sebagai berikut: disatu sisi pewartaan Gereja ingin menjawab kebutuhan manusia. Pada sisi lain hampir seluruh kebutuhan manusia sudah diatur secara politik dalam departemen-departemen pemerintahan (misalnya pendidikan, kesehatan, ekonomi, keamanan, dan lain-lain). Dengan demikian, pelayanan Gereja harus berdimensi politis tetapi tidak boleh mempolitisir persoalan. Kesulitan yang kita hadapi bahwa Gereja selama ini tidak melihat fungsinya di pentas politik. Pada masa-masa peralihan ini pasti akan terasa kecanggungan-kecanggungan dan pro-kontra di antara para pelayan dan tentu juga seluruh warga jemaat. Oleh karena itu, perubahan teologi sangat dibutuhkan dan harus dimulai oleh pemuda dan juga para pelayan. Dalam hal ini pemuda memiliki karakter yang positif dalam mengkritisi persoalan-persoalan kemanusiaan. Reformasi yang bergulir di tengah-tengah bangsa dan negara kita, misalnya, membuktikan betapa besar peranan pemuda di dalam memulai suatu pembaharuan. Pembaharuan yang mendasar seperti itu juga dibutuhkan oleh Gereja kita apabila kita merindukan HKBP yang pro-kehidupan atau pro-kemanusiaan.

2.2. Keberpihakan Pemuda Terhadap Orang Miskin, Orang yang Tersingkir dan Pengangguran

Gereja sudah terbiasa dengan slogan preference for the poor. Karakter ini harus juga ada di dalam diri pemuda. Tantangan ini semakin sulit karena fakta memperlihatkan bahwa Gereja kita juga sedang menghadapi persoalan di mana para pemuda dihantui oleh pengangguran, PHK, sulit mencari pekerjaan, kualitas SDM rendah, dan sebagainya. Di sini keberpihakan Gereja bukan hanya terhadap warga Gerejanya saja, akan tetapi secara umum. Sebagai contoh pada tahun lalu Gereja Jerman mengeluarkan sebuah pernyataan teologis sebagai konkritisasi keberpihakan kepada orang miskin. Pernyataan tersebut mengatakan bahwa Gereja menyediakan dirinya sebagai suatu kekuatan lobi politik dalam arti sebagai pembela terhadap orang miskin. Apa yang bisa dilakukan pemuda di dalam menjawab tantangan ini? Di samping statement-statement, pernyataan sikap, tampaknya perlu suatu tindakan konkrit. Sebagai contoh: tahun lalu Muhammad Yusuf dari Bangladesh memperoleh hadiah nobel perdamaian. Sangat aneh bagi semua orang bahwa kategori perdamaian dimenangkan oleh seorang yang sangat perduli kepada orang miskin yang mengembangkan CU (Credit Union). Tampaknya bidang dan model ini juga sangat relevan di Indonesia, dan oleh karena itu merupakan suatu kesempatan bagi pelayanan para pemuda.

2.3. Pemuda dan “dunianya”

Bagaimana kita mau mendefenisikan pemuda? Apakah betul pemuda didefenisikan dari “dunianya”? Dunia pemuda sering diidentikkan dengan judi, minuman keras, narkoba, kebebasan sex, dan lain-lain sejenisnya. Tetapi tampaknya identifikasi tersebut tidak bisa dipertahankan lagi karena ternyata dunia tersebut bukan lagi hanya dunia pemuda. Penyakit di atas tersebut terjadi di luar dan di dalam Gereja, kehidupan warga maupun pelayan, generasi tua maupun yang lebih muda. Penyakit HIV masuk juga dalam bagian ini karena hal itu merupakan akibat dari pada penyakit-penyakit sosial (free sex) di atas. Oleh karena itu haruslah sama seperti orang Kristen pada umumnya, pemuda tidak didefenisikan dari milieu atau lingkungannya, melainkan didefenisikan ke tujuannya, ke pembaharuan akal budi (Roma 12:1-2). Persoalan penyakit sosial ini menjadi sorotan bagi HKBP melalui tema-tema mingguan (Almanak HKBP).

2.4. Kekerasan dan kesetaraan gender.

Kekerasan dalam bentuk tawuran, perkelahian antar geng, antar lorong, disatu sisi dan kekerasan terhadap wanita di sisi yang lain turut juga mewarnai kecenderungan di tengah-tengah masyarakat. Termasuk di dalam kelompok ini adalah penjualan wanita dan anak-anak menjadi komoditi sex. Kecenderungan ini sudah dibaca oleh dewan Gereja sedunia ketika mencanangkan tahun 2001-2010 sebagai dekade anti kekerasan. Pemuda dalam hal ini perlu kreatif, merealisir semangat pembaharuan yang sifatnya oikumenis tersebut. Sikap ekstrim terhadap wanita berpangkal dari sikap atau pandangan merendahkan wanita. Itu sebabnya kesetaraan gender juga seharusnya menjadi tema di dalam percakapan-percakapan pemuda, yang didasari dari pemahaman teologis.

Dipublikasi di Renungan | Tinggalkan komentar

Hubungan Pemuda dan Gereja

Pendahuluan

Berbagai definisi tentang kata pemuda sangat banyak kita dapati. Baik ditinjau dari fisik maupun phisikis akan siapa yang pantas disebut pemuda serta pertanyaan apakah pemuda itu identik dengan semangat atau usia.Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus Webstersnya sebagai “the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person”.Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai young people, sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan usia 10 -19 tahun. Contoh lain di Canada dimana negara tersebut menerapkan bahwa “after age 24, youth are no longer eligible for adolescent social services”.Jadi pemuda identik dengan sebagai sosok individu yang berusia produktif dan mempunyai karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis, berpikiran maju, memiliki moralitas, dan sebagainya. Kelemahan mecolok dari seorang pemuda adalah kontrol diri dalam artian mudah emosional, sedangkan kelebihan pemuda yang paling menonjol adalah mau menghadapi perubahan, baik berupa perubahan sosial maupun kultural dengan menjadi pelopor perubahan itu sendiri.Dalam istilah Gereja HKBP, kata pemuda ini dikenal dengan sebutan Naposobulung. Kata ini sendiri terdiri dari gabungan dua kata, yakni: Naposo (muda) dan Bulung (daun), yang secara harafiah dapat diartikan Daun muda (hehehe…jadi lucu ya???). Tapi itulah artinya. Daun Muda yang sangat indah, manis dan menawan. Daun muda yang masih memiliki masa depan dan harapan hidup yang sangat panjang. Namun, jangan dilupakan, Ia akan sangat rentan menjadi korban hama yang ada di sekitarnya. Daun muda ini akan menjadi incaran ulat-ulat dan hama karena rasanya yang manis dan menggoda. Ia juga akan sangat rentan terhadap perubahan cuaca yang tiba-tiba dan hilang di antara perubahan tersebut.Biasanya ketika orang membicarakan pemuda, maka yang ditekankan adalah pemuda sebagai masa depan Gereja. Dari pihak pemuda, mereka senang karena dilihat sebagai masa depan dan generasi penerus. Generasi tua juga merasa puas dan bangga karena menempatkan pemuda sebagai masa depan. Ternyata pandangan dan sikap demikian tidak partisipatif dan tidak konstruktif. Alasannya:

  1. Karena pemuda sebagai masa depan Gereja, maka mereka perlu dipersiapkan, dibina dan dikader agar cakap menghadapi masa depan dan menjadi warga Gereja yang tangguh di masa depan. Agar pemuda mempunyai masa depan dan menjadi masa depan Gereja, maka mereka haruslah dibina dan dipersiapkan. Itulah yang menjadi masa kininya yaitu sebagai objek pelayanan
  2.  Akibatnya, pemuda kurang atau tidak dilibatkan oleh Gereja di masa kini sebagai bagian yang turut menentukan masa depan Gereja.

Namun keterlibatan semua bagian dalam jemaat, generasi tua, generasi yang lebih muda, pemuda dan anak-anak tidaklah cukup. Akhirnya kita harus berbicara keterlibatan dalam pelayanan yang bermutu. Dulu kita dicekoki dan puas dengan gagasan pemerataan pendidikan atau pendidikan untuk semua. Tampaknya masyarakat juga cukup puas dengan kesempatan mengenyam pendidikan! Tetapi, bagaimana dengan mutu? Apakah kita puas dengan mutu pendidikan? Mungkinkah bangsa kita, atau HKBP, mengembangkan pelayanan pendidikan yang bermutu untuk semua kalau komponen-komponen penentu mutu tidak disediakan? Jika cara berpikir ini diterapkan dalam pelayanan pemuda maka timbul pertanyan: Mungkinkah mendapatkan pelayanan pemuda yang bermutu kalau komponen-komponen penentu mutu pelayanan pemuda tidak dipenuhi? Dengan menggumuli keterlibatan pemuda dalam pelayanan yang bermutu, diharapkan pemuda Distrik V bisa memberi kontribusi dalam pergumulan HKBP me-Revitalisasi Pelayanan Pemuda HKBP, sesuai dengan tema konsultasi yang akan diselenggarakan. Masa depan Gereja ditentukan oleh mutu pelayanan. Oleh karena itu, perlu dipikirkan beberapa hal yang terkait dengan pelayanan yang bermutu, khususnya dalam skopus pemuda, sebagaimana dijelaskan di bawah ini.

II. Pemuda dan masyarakat:

Gereja adalah Gereja atau tidak sama sekali. Bagaimana mengukurnya? Salah satunya adalah apakah Gereja tetap melaksanakan fungsinya sebagai Gereja, apakah Gereja tetap hadir sebagai Gereja di tempat di mana dia berada. Sebagus apapun pelayanan didesign tetapi kalau tidak menyentuh persoalan-persoalan yang muncul di tengah-tengah masyrakat, maka itu bukanlah pelayanan yang bermutu. Ada beberapa bahan yang bisa didiskusikan dalam pra-konsultasi ini antara lain:

2.1          Pemuda di Tengah-tengah Kemajemukan Bangsa.

Di antara banyaknya kemajemukan, yang paling membutuhkan perhatian kita sekarang adalah kemajemukan agama. Banyak persoalan-persoalan di tengah-tengah masyarakat akhir-akhir ini bernuansa agama. Itu sebabnya dialog antar umat beragama mutlak dilakukan. Memang dialog antar umat beragama dalam rangka dialog kerja, bekerja sama menghadapi persoalan-persoalan kemasyarakatan masih perlu terus ditumbuhkembangkan. Namun hal yang sangat penting yang kurang diperhatikan adalah dialog yang mencoba membuka diri dengan pertanyaan: adakah dan sejauh manakah keterbukaan teologi (Kristen) yang bisa dan mungkin dilakukan? Pertanyaan ini perlu ditindak lanjuti untuk menemukan jawaban, yang pada akhirnya memperlengkapi pemuda dalam berinteraksi dengan saudara-saudara yang tidak seiman khususnya dengan muslim. Sebagai bahan untuk diskusi saya menawarkan konsep dialog dengan saudara-saudara kita muslim sebagai dialog keluarga Abraham. Artinya kita berdialog bukan sebagai orang asing satu dengan yang lain tetapi sebagai satu keluarga. Dalam era globalisasi konteks lokal, nasional dan internasional sudah “interrelated” sehingga jika kita tidak mengenal siapa kita (identitas) yang berhubungan dengan keber”ada”an dan konteks, maka kita akan terputar oleh arus yang dikuasai oleh multi-cooperation, yang tidak memuja Allah tapi mammon. Dampaknya,  konteks global sekarang adalah mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan keutuhan interrelationship dari semua ciptaan. Sehingga yang nampak adalah ketidakadilan. Perbedaan dianggap sebagai ancaman bukan kekayaan yang saling menopang. Hal ini disebabkan karena yang memiliki, yang berkuasa, yang lebih pintar menindas/ memanipulasi yang tidak/ kurang memiliki, yang tidak berkuasa (powerless) dan yang bodoh. Saling berbagi (the idea of sharing) tidak dikenal dalam era ini. Prinsip Doa Bapa Kami dan kotbah di Bukit yang diajarkan oleh Yesus tidak berlaku di era perdagangan bebas dan global market ini. Manusia kini, amat cepat terserap oleh pola pikir dan tindak yang ditawarkan oleh global market ini, karena mereka menguasai dunia informasi. Termasuk pemuda Gereja.

Konsumerisme, hedonisme, pragmatisme, kebudayaan instant (coffee three in one) mengarahkan kita menjadi individualisme yang tidak sesuai dengan pola local (kebatakan- hula-hula, anakboru dll) dan nasional (gotong royong, musyawarah mufakat) yang berorientasi kepada kekuasaan (power)  dan uang (money). Semua orang menuntut dilayani bukan melayani. Yang tinggi direndahkan dan yang rendah ditinggikan tidak dikenal pemuda kini.

Ekonomi dan politik adalah berkaitan dan sangat berhubungan dengan keberadaan agama. Keterkaitan ketiga aspek ini dan yang dimana aspek agama adalah yang the most sensitive, maka jika Gereja belum mengertikan Pancasila sebagai civil religion[1], muncullah seperti yang kita kenal di tanah air tragedi Ambon dan Poso, juga di dalam pemerintah RI yang disebut “teroris.”  Ini adalah penampakan umum sebagai dampak negatif dari pluralisme kita (kepercayaan/iman dan suku). Penampakan khusus adalah masalah intra-church. Maraknya gerakan “haleluyah“ (bisa dimasukkan Pentakosta dan Karismatik) jangan dengan cepat dimengerti sebagai buah dari pekerjaan Roh Kudus. Ini adalah buah dari tatanan global market[2].

Berdasarkan pemaparan di atas, bisa dikatakan bahwa sebagai pemuda yang hidup di konteks kini tidak gampang. Karena tidak hanya complex tapi juga complicated (seperti status di Facebook ya…), jika kita tidak mempunyai identitas yang jelas tentang siapa dan dimana kita.

Pengangguran karena putus sekolah dan tidak dapat kerja adalah dampak dari era yanghigh competition ini.  Konsep keluarga juga sudah bergeser dikarenakan komoditi ekspor Indonesia yang menghasilan devisa yang tinggi buat negara adalah TKI dan TKW. Pemuda banyak yang jebolan keluarga yang kita sebut “broken home.“  Banyak yang melarikan diri [3], dari pada stress lebih baik ke narkoba, miras, berjudi, atau menjadi aktif di kegiatan-kegiatan yang positif seperti GMKI, pemuda Gereja HKBP atau Persekutuan-persekutuan doa yang menjamur kini.

Dalam era sejuta pilihan ini, pemuda harus mempunyai kemampuan untuk memilih. Kemampuan ini haruslah dilandasi bekal pengetahuan yang didapatkan dari bangku sekolah dan pendidikan keterampilan sehingga memampukannya berpikir secara global dan bertindak lokal, serta keteguhan iman. Perpaduan kedua ini jelas berhubungan dengan pemunculan sikap yang kerja keras, inovatif, kreatif dan jujur.

Dipublikasi di Renungan | Tinggalkan komentar

Peran Naposo Bulung

PERAN SERTA PEMUDA DALAM KEHIDUPAN BERJEMAAT

 1. Pendahuluan Sesuai dengan Aturan Peraturan HKBP tahun 2002 (2.5.a hl.118) yang disebut dengan seksi Pemuda (naposobulung) adalah persekutuan semua pemuda jemaat, laki-laki dan perempuan, yang berusia di atas usia remaja (di atas usia 18 tahun; remaja 12 – 18 tahun) dan belum menikah, serta terdaftar sebagai warga jemaat. “Bungabunga ni Huria”, demikianlah sebutan yang sering kita dengar di tengah-tengah Gereja Huria Kristen Batak Protestan untuk menyebut Naposobulung (pemuda). Sebutan ini tentunya tidak lahir begitu saja dan hanya sebutan kosong; dengan sebutan pemuda sebagai “bunga-bunga ni huria” di dalamnya terkandung harapan dari kehidupan dan kehadiran naposobulung ditengah-tengah jemaat akan tercipta persekutuan yang indah dan menarik yang keharumannya dapat dirasakan dan dinikmati orang-orang di sekelilingnya. Tentu hal tersebut hanya dapat terjadi ketika naposobulung memahami makna dan arti kehadirannya di tengah-tengah jemaat. Sebagai “bunga-bunga ni huria” pemuda juga terpanggil dan diutus untuk berperan serta dalam setiap pelayanan di tengah-tengah jemaat. Menjadi pemuda yang partisipatif, kreatif dan inovatif di tengah-tengah jemaat, bukan pemuda yang harus selalu dilayani atau menuntut pelayanan dari orang-orang di sekitarnya (gereja). Pemuda dengan semua potensi yang dimilikinya merupakan aset berharga yang dimiliki gereja, masyarakat dan negara. Tidaklah berlebihan jika pemuda disebut juga sebagai tiang gereja, masyarakat dan negara; dimana sejarah kebangkitan nasional, dunia, alkitab dan gereja telah membuktikan bagaimana peranan para pemuda yang sangat vital dan bertenaga dalam menyuarakan dan menciptakan perubahan. Sudah saatnya pemuda HKBP bergerak dan menjadi subjek pelayanan, tidak lagi bersifat menunggu dan pasif dalam pelayanan gereja dan masyarakat; pemuda gereja harus menjadi berkat bagi banyak orang. 2. Gereja Sebagai Tubuh Kristus: Terang dan Garam Dunia Gereja (persekutuan orang-orang percaya) sebagai Tubuh Kristus di dunia ini adalah orang-orang yang terpanggil dari kegelapan kepada terang yang ajaib di dalam Yesus Kristus. Pemanggilan Allah kepada orang-orang percaya adalah panggilan yang bermuatan tanggungjawab dimana orang-orang percaya terpanggil untuk memberitakan perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan Tuhan kepada dunia ini. Dalam rangka tugas panggilan tersebut di tengah-tengah gereja dirumuskan Tri Tugas Panggilan Gereja, yaitu: Persekutuan (Koinonia), Kesaksian (Marturia) dan Pelayanan (Diakonia). Ketiga tugas panggilan gereja ini melekat di dalam diri orang-orang percaya, dalam hal ini termasuk naposobulung. Untuk melaksanakan tiga tugas panggilan gereja tersebut, kepada orang-orang percaya diberikan karunia-karunia atau talenta sesuai dengan pemberian Roh. Semua karunia atau talenta tersebut sama pentingnya, tidak ada satupun diantara karunia itu lebih penting dan lebih utama dari yang lainnya, tetapi semuanya sama-sama penting dalam rangka pembangunan Tubuh Kristus, yaitu jemaat. Dengan karunia atau talenta yang dimilikinya, gereja dan orang-orang percaya memainkan peranannya menjadi terang dan garam di tengah-tengah dunia ini. Kehadiran gereja dan orang-orang percaya harus membawa perobahan ke arah yang lebih baik, mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi lingkungan sekitarnya, membawa damai sejahtera dan sukacita serta memberikan alternatif kehidupan yang lebih baik kepada orang-orang yang Tuhan tempatkan disekitarnya. Seperti apakah peranan pemuda (naposobulung) di dalam tri tugas panggilan gereja tersebut? Seperti telah disebutkan di atas bahwa pemuda adalah generasi penerus gereja, tiang gereja dan bungabunga ni huria mempunyai peranan yang sangat penting sehingga tri tugas panggilan gereja tersebut dalam berjalan secara baik dan maksimal. 3. Pemuda Dan Persekutuan: Menjadi Teladan Bagi Generasi di Bawahnya Salah satu dari tri tugas panggilan gereja adalah Koinonia (bersekutu), di gereja HKBP dikenal seksi sekolah minggu, remaja, pemuda, wanita, bapak dan lanjut usia. Di dalam persekutuan inilah terkumpul potensi-potensi yang dimiliki anggota jemaat. Persekutuan sangat menentukan dapat tidaknya pelayanan berjalan dengan baik. Hanya dengan terciptanya persekutuan yang baik maka akan tercipta kerjasama yang baik menyatukan potensi-potensi yang dimiliki untuk mewujudkan tugas panggilan gereja. Oleh sebab itu, dalam hal pemuda memperan serta dalam pelayanan maka harus diciptakan dahulu persekutuan yang baik di tengah-tengah pemuda gereja sehingga persekutuan tersebut menarik bagi orang lain untuk terlibat di dalamnya. Tidak ada ruang untuk mengembangkan kelompok-kelompok yang dianggap penting sedang yang lain hanya penggembira saja, sebab hal yang demikian dapat menimbulkan perpecahan dan pelayanan tidak dapat berjalan dengan baik. Selain itu, pemuda dalam persekutuannya harus terbuka terhadap kategorial yang lainnnya khususnya kepada kategorial sekolah minggu dan remaja. Pemuda harus menjadi teladan bagi adek-adeknya sekolah minggu dan remaja, bahkan pemuda hendaknya terlibat dalam pelayanan dan pembinaan rohani bagi mereka (menjadi partner kerja majelis), misalnya menjadi guru sekolah minggu atau terlibat dalam pelaksanaan kebaktian-kebaktian atau penelahaan alkitab. Dengan keterlibatan pemuda dalam pelayanan di kategorial sekolah minggu dan remaja (secara khusus kategorial remaja) diharapkan regenerasi persekutuan pemuda dapat berjalan dengan baik. Anak remaja tidak gamang memasuki wilayah pemuda karena dia sedikit banyak sudah mengenalnya. Sebab sering terjadi di tengah-tengah gereja ada masa-masa di mana anggota persekutuan pemuda secara kuantitas sedikit, sedang gereja sudah menamatkan 2 sampai 3 kali pelajar katekhisasi sidi. Kenapa? Karena remaja tadi tidak diperkenalkan lebih dahulu persekutuan pemuda, dia masuk ke persekutuan remaja risih sedang masuk ke persekutuan pemuda ragu-ragu. Untuk mengatasi hal tersebut pemuda harus proaktif memperkenalkan persekutuan pemuda, sehingga remaja-remaja pada waktunya dengan keinginan dan kerinduannya mau melibatkan diri ke dalam persekutuan pemuda; maka terciptalah persekutuan pemuda yang berkesinambungan di tengah-tengah gereja. 4. Pemuda Dan Kesaksian: Boan Sadanari (bawa satu orang lagi) Saat ini yang sering dikeluhkan dan dipergumulkan di tengah-tengah gereja HKBP adalah semakin banyaknya generasi muda yang meninggalkan HKBP dan bergereja serta aktif di gereja lain, khususnya aliran kharismatik (sering disebut eksodus atau jajan rohani karena kewargaanya tetap terdaftar di HKBP atau ikut orangtua). Alasan yang sering kita dengar sehingga banyak warga HKBP khususnya pemuda jajan rohani atau eksodus adalah ibadah di HKBP monoton dan pelayanannya tidak menyentuh jemaat. Dibeberapa gereja HKBP, khususnya di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, sudah dilakukan ibadah alternatif atau ibadah khusus, dimana dalam ibadah dipakai alat musik yang lebih bersemangat dan dalam ibadah melibatkan jemaat (partisipasi jemaat) sehingga ibadah lebih hidup dan menarik. Dengan ibadah ini diharapkan pemuda gereja kembali lagi beribadah di HKBP. Apakah benar demikian? Mungkin benar tetapi tidak sepenuhnya demikian. Tahun 2008 ini telah di tetapkan HKBP menjadi tahun Marturia (kesaksian) dengan motto: BOAN SADANARI. Di tahun marturia ini, pemuda HKBP hendaknya mengambil peran serta untuk menggalakkan tahun marturia dengan mamboan sadanari (membawa satu orang) pemuda HKBP yang sudah meninggalkan HKBP atau tidak aktif lagi di HKBP kembali ke HKBP. Dalam membawa satu orang lagi tentu pemuda ditengah-tengah persekutuannya harus menciptakan kegiatan-kegiatan yang lebih menarik. Membentuk wadah-wadah yang dapat mengakomodir talenta-talenta pemuda yang selama ini terpendam untuk disalurkan dalam pelayanan di tengah-tengah gereja, misalnya bermain musik, olahraga, menulis cerita/puisi dan lain-lain. Mereka (pemuda) juga dapat dilibatkan di dalam seksi-seksi yang ada di Dewan Marturia di seksi sending dan musik. Artinya pemuda lebih menunjukkan partisipasinya dan keterlibatannya dalam pelayanan sehingga, dia tidak hanya terlibat dalam seksinya saja. Dalam hal ini, diharapkan majelis harus mau membuka ruang bagi partisipasi dan keterlibatan pemuda dalam pelayanan dan membuka pintu untuk pembaharuan yang diinginkan pemuda tanpa harus meninggalkan warna atau ciri khas HKBP dan memperhatikan aturan dan konfessi HKBP. 5. Pemuda Dan Pelayanan: turut serta dalam kegiatan sosial Dalam hal kegiatan sosial, sangat banyak yang dapat dilakukan pemuda. Kegiatan-kegiatan yang langsung menyentuh kebutuhan jemaat, khususnya jemaat yang kurang mampu. Pemuda dapat membuka pelatihan-pelatihan di gereja, membuka kursus-kursus sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki dan berguna untuk mencerdaskan jemaat; sebab tidak semua jemaat dapat membiayai anaknya mengikuti kursus-kursus yang memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pada musim ujian akhir (ujian akhir nasional) pemuda dapat juga memberikan bimbingan kepada anak-anak anggota jemaat yang akan mengikuti ujian nasional tersebut. Pemuda harus berperan aktif menciptakan dan membuat gereja menjadi pusat pembelajaran dan pembinaan, sebab pemuda memiliki potensi untuk melakukan hal tersebut. Pemuda juga harus memiliki keprihatinan terhadap tingginya tingkat pengangguran saat ini. Pengangguran yang mengakibatkan semakin banyaknya orang yang miskin, putus asa, dan meningkat pula perbuatan-perbuatan kriminalitas di tengah-tengah masyarakat. Dalam mencermati keadaan ini, pemuda dapat juga berperan membuka jaringan-jaringan kepada perusahaan, instansi atau lembaga tertentu dalam hal informasi mengenai lowongan pekerjaan bagi warga jemaat. Tentu masih banyak lagi pelayanan-pelayanan yang berhubungan dengan sosial yang dapat dilakukan pemuda gereja, misalnya mengunjungi orang sakit anggota jemaat (membentuk tim doa), turut serta dalam kegiatan penghiburan, bahkan membuka pemuda dapat melakukan pengobatan dan pembinaan-pembinaan tentang kesehatan masyarakat, paling sedikit memfasilitasinya. 6. Penutup Masa muda bukanlah menjadi penghalang bagi kita untuk turut serta dalam pelayanan, memikul tanggungjawab untuk melakukan tri tugas panggilan orang-orang percaya, yaitu bersekutu, bersaksi dan melayani. Rasul Paulus mengatakan “jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda…” (1 Tim. 4: 12). Masa muda adalah masa yang indah untuk melayani, waktu untuk berkarya dan berbuah bagi Tuhan. Tunjukkanlah bahwa kamu pun bisa dan mempunyai kapasitas untuk di andalkan dalam pelayanan di tengah-tengah gereja dan masyarakat. Kehadiranmu di gereja bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani, pelayananmu tidak identik hanya paduan suara (koor) belaka, diluar itu masih banyak yang dapat kamu lakukan dan persembahkan untuk Tuhan. Melayani itulah yang diinginkan Tuhan darimu pada masa mudamu ini. SELAMAT BERKARYA DAN MELAYANI.

Dipublikasi di Renungan | Tinggalkan komentar

Lembutkan Hatimu, Tak Perlu Keras Hati!

Sebagai manusia yang belum sempurna yang sedang belajar dan melatih diri tentang kehidupan menuju menjadi manusia yang lebih baik , tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahan. Ini tak dapat dipungkiri.

Oleh sebab itu , mungkin kita tidak bisa selalu dalam keadaan sadar atau eling setiap saat menghadapi kehidupan yang begitu banyak cobaan dan godaan. Masih banyak celah bagi kita untuk melakukan kesalahan-kesalahan.

Namun hal ini janganlah sampai membuat kita berkecil hati untuk belajar dan juga jangan menjadikannya sebagai senjata pembenaran atas setiap kesalahan yang kita lakukan.

Mungkin kita saat ini belum mencapai kepada taraf selalu dalam kesadaran diperjalanan hidup ini . Tetapi kita masih bisa belajar untuk melembutkan hati, yang akan selalu membuat kita tersadarkan seketika. Bukannya menyimpan kekerasan hati, yang membuat kita keras kepala tanpa mau mengakui kesalahan.

Dengan adanya kelembutan hati yang kita miliki, berarti masih punya harapan untuk memperbaiki diri. Karena dengan demikian, masih gampang untuk menerima pengajaran dan diingatkan oleh orang lain atau olehNya secara langsung. Bahkan sebuah pengajaran yang tak terduga bisa kita dapatkan ketika kelembutan hati itu selalu ada.

Dalam hidup ini seringkali kita menemukan orang-orang yang begitu keras hati , sulit diberikan nasehat dan pengajaran. Begitu tidak ada kerendahan hati untuk bisa menerima kritikan yang baik. Tak jarang melakukan perlawanan karena merasa benar sendiri. Ketika diingatkan kesalahannya justru menertawakan. Saat diingatkan malahan timbul kemarahan . Diberikan masukan demi kebaikannya, yang ada disepelekan.

Lihatlah, berapa banyak kesalahan demi kesalahan yang terjadi akibat kekerasan hati?

Kekacauan dan perang tak jarang karena kekerasan hati, tak mau mengalah dan merasa benar sendiri. Inilah yang dikatakan berbagai kebodohan batin manusia, walau bisa saja ia memiliki kepintaran. Tetapi sebenarnya alangkah ruginya bila demikian. Dengan adanya kelembutan hati, maka hati kita akan selalu terbuka untuk menerima pengajaran dan ini merupakan sebuah keberuntungan. Bila kelembutan hati itu selalu ada, saat melakukan kesalahan, maka ketika datang kebenaran untuk mengajarkan, hati ini akan menjadi sadar dan segera menginsyafi kesalahan yang terjadi.

Alangkah indahnya bila kelembutan hati selalu ada. Hidup akan terasa berbunga-bunga menikmati setiap rangkaian momen yang ada. Semoga dengan semakin lembutnya hati kita, kesadaran akan menjadi teman kepada kesejatian diri.

Dipublikasi di Renungan | Tinggalkan komentar